KHOTBAH
.co
christian
online
Khotbah

Berkhotbah dari Kitab Para Nabi

Dari Khotbah

Langsung ke: navigasi, cari
<<
Sebelumnya
Berkhotbah dari Kitab Para Nabi


  1. Kitab-kitab Para Nabi harus dibaca berdasarkan konteks sejarahnya

    • Allah mengirimkan nabi-nabi untuk berbicara kepada bangsa Israel di tengah situasi sejarah tertentu. Tugas utama para nabi adalah 'menyampaikan masa depan' menurut Firman Allah bagi manusia yang hidup di zamannya. Jadi nabi-nabi bukanlah 'peramal' masa depan.

    • Saat para nabi berbicara tentang masa depan, atau membuat prediksi, maka apa yang disampaikannya itu dimaksudkan untuk mendorong orang melakukan perubahan.

    • Jadi, sejauh mungkin, temukan latar belakang teks yang ingin Anda khotbahkan. Latar belakang ini tidak harus terinci dengan sangat jelas, namun pengetahuan umum tentang latar belakang kehidupan nabi tertentu sudah akan sangat bermanfaat.

    • Ingat aturan pertama: Jangan bertanya 'Apa arti hal ini bagi saya sekarang ini?' sebelum Anda berusaha keras menjawab 'Apa arti hal ini bagi mereka di masa itu?' Jadi bertanyalah, 'Apa yang dikatakan nabi ini kepada umatnya masa itu, dan mengapa ia mengatakan hal ini? Situasi sosial, politik, religius atau situasi ekonomi seperti apa yang sedang dihadapinya?

    • Dalam khotbah, Anda perlu menjelaskan apa yang telah dikatakan oleh Nabi itu dan apa arti perkataannya itu di zamannya, sebelum Anda menafsirkan tentang bagaimana relevansi kata-kata itu bagi dunia masa kini.

    • Jangan membaca perikop-perikop para nabi secara tersendiri, terpisah dari konteksnya-seperti ramalan masa depan. Pahamilah bagian itu dalam kaitannya dengan iman Israel secara menyeluruh.

  2. Berdasarkan cara nabi-nabi menantang konteks pada zamannya, bergeraklah kepada cara pesan ini menantang konteks kita sekarang ini, baik di gereja maupun di masyarakat.

    • Ikuti prosedur yang sama dengan prosedur menafsirkan hukum PL (yang sudah dibahas sebelumnya)

      • Apa tujuan atau maksud kata-kata sang nabi?

      • Siapa yang disalahkan atau yang dipujinya? Dan Mengapa?

      • Isu atau prioritas apa yang muncul dalam pesannya?

      • Apa Firman Allah yang disampaikan melalui nabi tersebut bagi orang-orang yang hidup di masa itu?

      • Dalam cara bagaimana Firman itu seharusnya berbicara kepada kita sekarang ini?

      • Bagaimana seharusnya nada khotbah yang mencerminkan nada perikop Alkitab ini? Penghiburan? Teguran? Peringatan? Harapan? Tantangan untuk berubah? Janji?

      • Kemudian berkhotbahlah dengan mengekspresikan maksud pokok dari bagian perikop tersebut, sehingga seandainya Yeremia atau Amos sedang duduk di antara para pendengar maka mereka bisa berkata, 'Ya, begitulah kira-kira yang saya maksudkan."

  3. Perlakukan 'prediksi masa depan' dalam kitab nabi-nabi dengan sangat hati-hati.

    • Banyak prediksi yang sifatnya bersyarat. 'Hal ini akan terjadi, jika engkau tidak mengubah kelakuanmu'. Perhatikan Yer. 18:1-12. Jangan memperlakukan nubuatan seperti 'nasib'.

    • Bedakan antara janji dan prediksi. Janji didasarkan atas hubungan (dalam PL, perjanjian antara Allah dan Israel), dan tahap penggenapannya terbuka melalui masa beberapa tahun dan berbagai situasi. Nubuat alkitabiah memuat potensi 'multi-level' ini. Sebuah nubuat bisa memuat beberapa horizon dalam penggenarannya.

    • Horizon 1. Banyak prediksi yang digenapi dalam masa hidup nabi itu sendiri, atau dalam periode sejarah masa PL. Misalnya, prediksi jatuhnya kerajaan Israel dan Yehuda, masa pembuangan dan kembalinya Israel dari pembuangan.

    • Horizon 2. Semua nubuat penggenapan akhirnya adalah dalam dan melalui Yesus Kristus. Namun hati-hatilah terhadap hadirnya dua ekstrem yang sangat berlawanan:

      • Jangan mencoba membuat semua ayat kitab berbicara 'tentang Kristus'. Bertanyalah terlebih dahulu tentang apa yang sesungguhnya sedang dibicarakan oleh nabi itu, misalnya keadilan, perzinahan, kejahatan sosial atau kejahatan pribadi, pertobatan, harapan.

      • Jangan mencoba menerapkan nubuat PL kepada peristiwa-peristiwa moderen dalam cara yang mengabaikan Yesus dan apa yang dikatakan PB tentang penggenapan nubuatan itu di dalam Dia.

    • Horizon 3. Beberapa nubuat membicarakan hal-hal yang nantinya akan terbukti benar, hanya sesudah kedatangan Kristus yang ke dua kali: misalnya, penghakiman akhir bagi seluruh bumi, ketaatan sempurna, dan keamanan umat Allah, ciptaan baru, dll.

    • Jadi, ketika mengkhotbahkan bagian-bagian yang membicarakan masa depan, Anda perlu sangat berhati-hati dalam membedakan:

      • Isi nubuat yang digenapi dalam periode PL itu sendiri.

      • Isi nubuat yang digenapi oleh Yesus dan dalam gereja PB.

      • Isi nubuat yang menunjuk kepada pemenuhan akhir nanti pada saat terwujudnya kesempurnaan pemerintahan Kristus atas ciptaan baru.

    • Namun pahami bahwa beberapa nubuat mungkin mempunyai lebih dari satu (atau sekaligus ketiganya) horizon penggenapannya dan relevansinya ini. Kita bisa belajar dari semua horizon ini.

    • Anda harus sangat berhati-hati dalam berasumsi bahwa nubuat tertentu secara dogmatis membicarakan 'tentang' peristiwa yang baru-baru ini terjadi dalam sejarah, atau 'tentang' seseorang atau bangsa moderen tertentu, atau 'tentang' jadwal akhir dunia ini. Sering 'penafsiran' semacam ini, meskipun dibuat dengan penuh keyakinan, ternyata terbukti salah. Dan jadwal semacam ini mengalihkan perhatian orang dari apa yang sesungguhnya menjadi pesan, apa yang menjadi tantangan perubahan yang dituntut pada masa sekarang-yang sesungguhnya merupakan maksud pesan nabi tersebut.

  4. Pahami beberapa cara khusus yang digunakan nabi dalam menggunakan bahasa

    • Nabi-nabi adalah orator dan orang yang pintar meyakinkan orang. Mereka sering menggunakan bahasa yang sangat kuat, kadang-kadang dilebih-lebihkan agar apa yang dimaksudkannya tersampaikan dengan tajam. Adakalanya bahasa yang digunakan sangat mengejutkan dan provokatif. Mereka menggunakan kontras yang sangat kuat; sindiran yang tajam, retorika seperti di ruang sidang penbadilan, dll.

    • Mereka sering mengiringi kata-katanya dengan tindakan-seperti teater jalanan. 'Tanda-tanda' nubuat ini perlu dipahami sesuai kebudayaan masa itu. Ketika berkhotbah biasanya Anda perlu menjelaskan hal ini.

    • Mereka mengunakan segala macam bahasa figuratif, gambaran, metafora, perbandingan, peribahasa/pepatah/ungkapan yang sedang populer, lagu-lagu, dan simbol. Bahasa mereka sangat kaya dan dinamis. Dalam mengkhotbahkan nubuat seperti ini, kadang-kadang Anda perlu menjelaskan latar belakang budaya yang membuat gambaran dan metafora tersebut bisa dipahami/masuk akal. Anda mungkin perlu mencari gambaran seperti apa (di masa sekarang) yang bisa dipakai sebagai pembandingnya, untuk menyampaikan maksud yang persis sama kepada pendengar Anda.

    • Jadi, dalam mengkhotbahkan perikop yang menggunakan bahasa seperti ini, jangan terbawa penafsiran harafiah yang mengada-ada. Selalu tanyakan pertanyaan yang mendasar: 'Apa yang ingin dikomunikasikan nabi ini melalui metafora, atau angka, atau simbol? Apa yang sedang dikatakannya? Ia ingin pendengarnya melakukan apa?' Kemudian, pertanyaan pengkhotbah, 'Bagaimana saya bisa mengkhotbahkan bagian ini dengan cara yang serupa dengan yang dimaksudkan nabi ini, sehingga jemaat yang mendengarnya akan menerima pengaruh yang sama dengan yang menjadi maksud nabi ini pada masa itu?'